Desember 01, 2011

Begu Ganjang (Hantu Tinggi dari Tanah Batak)

            “Iya Boru, lagi sibuk mamak. Baru meninggal disini Mak Tiur yang baru melahirkan semalam” tukas Mamak ku lirih sembari mengakhiri percakapan yang baru berumur semenit itu. Wanita paruh baya itu memang selalu memanggilku “Boru” yang arinya anak perempuan terkasih mereka. Dua bulan terakhir ini memang Kampungku sering berduka. Sepertinya Si Pencabut nyawa sedang bersarang disana. Mungkin di celah bebatuan di tepi Danau atau mungkin di dahan pepohonan di bukit sana. Kurang penting dimana tepat keberadaannya, intinya ajal serasa sejengkal terutama bagi sang pemilik rahim yang akan memuntahkan bayinya.
               Dengan kondisi seperti ini, cukup menjadi alasan sosok si Begu Ganjang santer terkenal seantara kampung. Konon Begu ganjang ini terlahir sebagai mahluk suruhan pemiliknya yang nafsu gelimang harta dalam sekejap, dengan bermodalkan nyawa manusia dijadikan tumbal. Mulai dari kedai tuak, gosip para ibu-ibu saat saling mencari kutu bahkan topik kotbah Pak pendeta di gereja kecil di atas bukit. Miris melihat desaku yang masih setubuh dengan Danau Toba itu. Seteknologinya Zamanpun tak berkutik melenyapkan prahara hantu pencabut nyawa itu. Sebegitu hinanya kah manusia hingga masih tahluk terhadap roh halus itu.
               Seraya menarik nafas dalam, aku lanjutkan mencermati buku kusut psikotes jualan pedagang asongan saat makan soto medan sebulan kemarin. Aku sedang mempersiapkan ujian Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), dengan bermimpikan diterima di rumah sakit ternama di kota ini. Gaji yang melebihi kantong dan menikmati kota nomor tiga termegah di Neusantara ini bersama sejuta gemerlap kenikmatan kota yang menggiurkan. Tak pernah terlintas di liang hatiku untuk mengabdi di puskesmas desa yang serba minimalis dan gaji yang tak termakan. Ujian tinggal menghitung hari. “Fokus Marta” tekadku dalam hati. Menyumpal kedua telingaku dengan kapas saat mendengar ajakan anak kost mepromosikan film terbaru di bioskop.
                                                                          ***
              “Ya Tuhan, Allahlah yang bekerja” pintaku berbalutkan doa saat memulai lingkaran pertama di kerta ujianku. Berisik dan panasnya gedung serasa tak mampu merusak nadi pikirku. Impianku begitu tangguh melawannya. Ini batu loncatan bagiku bermetamorfosa menjadi gadis yang mandiri dan terpandang. Dua kali sudah jarum menit arloji yang melilit tanganku melalui angka 12. Artinya waktu ujian sudah berakhir. Tak terasa bulir keringat merajai pipiku. Sekejap aku langsung mengais handphone yang dari tadi bergetar mencoba mengacaukan konsentrasiku. Tercetak tujuh panggilan tak terjawab dari Mamak ku. “ Ada apa gerangan?” tanyaku dalam hati. Segera aku hubungi balik dan mengulangnya hampir berpuluh kali. Tak ada jawaban dari nomor yang sudah terhapal otakku itu. Rasa penasaranku semakin menjadi. Aku lirik lagi ponselku dengan pesan tak terbacanya. Segera kubuka berbekal harapan dari keluargaku. “CEPAT PULANG BORU” ketikan dengan caps lock semua itu menyihir jantungku berdesir. Berbagai kemungkinan terburuk terkemas dalam relung hatiku. “Berkati mereka Tuhan” desahku bernafaskan doa.
              Sambil berlari kecil, aku menelusuri debu jalanan yang rindu sapuan hujan. Aku segera memasuki mulut angkot yang menuju termina Amplas tanpa berpikir harus memutar arah ke kost lagi. Segeraku menerobos bus “Karya Agung” yang bakal mengantarku ke Muara, pelosok desa di Balige sana. Darahku semakin mendidih saja karena Pak supir yang belum menginjakkan gas dengan alasan bangku belum terisi penuh. Ingin rasanya mengambil alih kemudi itu atau kurelakan merogoh kocek untuk membayar tiga bangku kosong demi bus segera melaju. Amarahku sedikit mereda ketika bus keluar dari terminal melesat menuju jalan besar. Sesekali aku mencuri waktu menghubungi mamak Bapakku namun tetap tak ada suara diujung sana. Ingin rasanya segera terbang atau menyelam dan tiba-tiba muncul di permukaan danau Toba dekat kampungku. Tapi bermimpi mengutukku semakin linglung.
               “Mau kemana ito?” sapa pemuda di sebelahku tiba-tiba. Sekali lagi aku perlu menjelaskan “ito” itu sapaan buat pemuda-pemudi yang masih sebaya di sana. Aku hanya menatap kosong berasa pemuda ini sok kenal dan kecakepan menyapaku. “Muara” ketusku dengan kesal. “Oh, kalau aku di Balige-nya. Tinggal nyebrang berarti ntar ya to?” timpalnya lagi mencoba mencari sesuatu buat dibahas. Aku hanya melayangkan senyuman maksaku sebagai jawabannya buat lelaki beralmamater hijau itu.Kupastikan dia jebolan universitas ternama di kota ini namun bukan berarti menjadi alasan aku bersikap manis buatnya. Sepertinya dia mengerti aku tidak mau diganggu dan kulirik dia menempelkan headset di kedua telinganya. Lalu asyik sendiri seakan pembuluh darahnya sudah menyatu dengan speaker mini itu. Dalam hitungan jam, bus yang ku tumpangi sudah mulai menapaki kota Balige. Tak terasa sesampai aku melupakan barisan sawit dan karet seputaran Tebing Tinggi atau hamparan Danau Toba saat melewati Parapat tadi. Dimaklumi, karena yang tersangkut dibenakku hanya Muara dan seisi rumahku. Kali ini aku cukup beruntung karena kapal penyebrangan langsung melejit setiba aku mendaratkan tubuhku di kursi usangnya. Fajar sebentar lagi hendak menjemput malam, terlihat sang surya mulai tersembunyi diujung danau yang beriak kecil. Kunikmati hamparan danau berlumur kilau surya terbelah ujung kapal seraya melahirkan gemercik ombak. Kapal segera mendaratkan tubuhnya ke dermaga kampungku.
                 Dari tepi danau aku melihat kepulan asap melangit dari tengah kampung. Tak sabar aku ingin melihat asal muasal si jago merah itu. Itu rumahku, ratusan penghuni kampung menyemut melingkari api unggun atau apalah itu. Bau ban bekas menyengat menusuk hidung. Dengan sigap aku menyelip kumpulan massa itu. Darahku serasa tumpah melihat pemandangang tragis di depan kedua biji mataku. Bapak dan mamak terikat tak berdaya disebuat tiang berkalungkan tulisan “ Par Begu Ganjang”, orang yang memelihara Begu ganjang. Rasanya tulangku mau remuk tak mampu berdiri. Kucoba mengucek mata tapi kusadar ini bukan khayalan. Dua ongok tubuh lemah itu adalah orang tuaku. Aku tidak tau dosa apa yang membuat mereka diadili layaknya binatang. Bapak Mamakku orang yang taat beragama, bias-bisanya mereka divonis memelihara siluman biadab itu. “Berhenti. Lepaskan mereka!!” teriakku sejadi-jadinya. Tapi seakan semau telinga tuli tak mendengar lolonganku. Aku berlari mencoba melepas ikatan mereka tapi seseorang berbadan tegap menarik menyeretku bagai sampah busuk. Aku meronta namun tak kuat melepas cengkraman tangan gagah itu. Kutancapkan taringku di pergelangan tangannya sebagai perlawanan terakhirku. Dia meringis lalu menampar perih pipiku. Kini aku lemah tak berdaya didekap tangan-tangan durjana lainnya. Tiba-tiba saja seseorang menyiramkan minyak tanah ke tubuh kedua mahluk yang telah membesarkan aku itu. “Bakar mereka!!” teriakan beringas warga setemapat. “Bunuh Par-Begu Ganjang” sahutan teriakan lain yang seakan menyayat telingaku. Aku hanya merintih seakan suaraku tersangkut diparuhku. Tak berani aku membuka mata. Itu sangat sangat menyakitkan bagiku. Aku hanya bisa mendengar rintihan Bapak dan Mamak bersama gemuruh api dan dentuman batu cadas yang menghujani tubuh mereka. Rintihan itu makin pelan, mengecil dan hilang lenyap. Akupun terkulai jatuh tak sadarkan diri bersama gerimis dan sirine polisi bak pahlawan kesiangan. 
                 Sejenak aku mencoba membuka kelopak mata, menatap tubuhh gosong terbungkus kantung mayat. Aku meraung sejadi-jadinya, mencakar tanah basah ulah hujan tadi. Ingin aku mencabik pembunuh sadis kedua orang tuaku atau memakan mereka hidup-hidup layaknya kanibal. Mulutku masih mengutuki lambannya Polisi menyigapi amukan massa. Aku sadar kami hanyalah keluarga kecil pendatang baru di kampung ini. Bapakku pindahan guru SMA dan Mamakku ibu rumah tangga sekaligus penatua di gereja kecil dekat danau. Aku tak tahu alasan orang-orang disini meyematkan “Par-Begu Ganjang” bagi orang tuaku. Kadang pikiran bodoh itu meracuni otakku, apa benar tuduhan yang divoniskan warga kampung ini. Tapi segera hal itu kubuang jauh karena aku tak lebih seorang durhaka mempertanyakan itu.
                                                                       ***
                Sudahlah, semua sudah berakhir. Aku ingin segera melalui pemakamn kedua orang tuaku dan segera meninggalkan kampung dan seisi rumah ini. Sejujurnya aku malas dan capek melayani lontaran pertanyaan polisi yang hendak mengungkit kronologis ceritanya. Bagiku itu tidak akan bisa menghidupkan nyawa mereka kembali. Rasanya sesegera saat aku meninggalkan kampung ini sesaat itu juga pulau ini tenggelam atau terseret ke dasar danau bersama kenangan kelam itu. Tiga minggu sudah aku masih bertahan paksa di sini, menunggui pusara orang tuaku. Aku menangis tertawa tiap meyambangi atau menyiram tanah merah itu. Teringat si bapak yang suka membelai rambut ikalku atau Mamak yang suka mainin daun telingaku kalau lagi tidur. Paling tidak itu semua sedikit banyak mengobati lara. Kali ini aku agak pulang cepat karena belum memasak lauk.
              Aku menuruni jalan setapak sambil sesekali berhenti dengan mata menerawang lepas ke danau bagai lukisan raksasa sana. “Ito yang kemarin jumpa di bus ya?” tiba tiba seseorang menyapa di perempatan gang menuju rumahku. Sepertinya suara itu tak asing bagi telingaku. Aku melirik asal suara itu dan tentu saja dia lelaki di bus kemarin masih bersama senyum kentalnya dulu. “Iya, ngapain disini?” heranku balas bertanya. “Puji Tuhan, aku baru lulus PNS. Aku dokter di puskesmas desa sini.” Terangnya. Aku tertegun, sepertinya aku telah melupakan beberapa bagian dari hidupku. Aku kaget bukan karena dia dokter di kampung ini tapi dengan pengumuman CPNS yang mungkin salah satu namaku tertera di sana. “Pengumumannya udah keluar ya?” “Udah, kemarin” Tanpa babibu aku menelepon salah satu temanku di Medan dan mmenanyakan hasilnya. Sontak saja aku melompat kegirangan mendengar kabar sukacita itu.         
              Aku berlari menuju rumahku berharap segera membereskan barang milikku lalu angkat kaki dari kampung ini. Mungkin lelaki yang masih tak bernama itu heran melihat ulahku yang tanpa basa-basi meninggalkan dia. Impianku sekaranng menemui kenyataan. Marta Siregar, Bidan cantik di Rumah sakit Dr. Pirngadi medan, celoteh banggaku dengan muka merona di depan kaca. Sayang Bapak dan Mamak tidak sempat mendengar kabar bahagia ini, sesalku mengubah air mukaku keruh. Tapi aku yakin mereka telah bahagia di surga, aminku mengimani. Setelah tas besar itu menelan semua barang bawaanku, aku singgah ke puskesmas menanyakan perkembangan hasil otopsi jasad orang tuaku. Sebenarnya dalam benakku enggan rasanya tapi ini senjata bagiku menggugat orang-orang tak bermoral penghuni pulau neraka ini. Aku sudah belajar iklas, semua ini hanya menyibak luka lama yang mulai kering. Tuhan juga sudah mencobah menyembuhkan sedikit nanah itu dengan berita kelulusanku. Berita ini sekaligus menyukseskan niatku angkat kaki kampung ini.
            “Siang Pak Dokter, mau ngambil hasil otopsi kemarin” sapaku terhadap lelaki berbalut dinas putih yang hanya memamerkan punggungnya itu. “Ya” sahutnya sambil membalikkan badannya ditemani air mukaku yang terkejut menyadari dia si pria dalam bus kemarin. Walau gugup sempat merasukiku, dengan keramahan dia, kami mulai berkenalan sampai aku membeberkan semua kejadian tragis silam kubumbui dengan berita kelulusanku. Namanya Ardo, nama aslinya sebenarnya ketara sekali Bataknya, Pardomuan Pardede, alumni kedokteran Universitas Sumatera Utara. Dia sebenarnya masih belum dalam masa jabatan, tetapi karena alasan kekurangan tenaga medis maka dia dengan semangatnya langsung mulai kerja hitung-htung penyesuaian diri . Dia sangat penasaran dengan kronik “Begu Ganjang” yang dialamatkan kepada kedua orang tuaku. Baguku hal itu tidak lebih dari alamt palsunya Ayu Tinting, Pedangdut ala korea yang lagi digandrungi masyarakat tanah air sekarang. Bahkan Ardo berhasil mengorek bagaimana lika-liku keluargaku dan dalang dari peristiwa tragis ini.
             Di antara penduduk kampung, orang tuaku memang terlihat paling berharta. Walau bertitelkan guru tetapi hidup kami berfasilitaskan rumah tiga kali ukuran rumah rata-rata di kampung, beberapa mobil juga bentangan sawah dimana- mana. Jika kondisi ini terus berlanjut, bias dipastikan setengah tanah di kampung ini menjadi milik kami. Mamak juga sering beralih fungsi menjadi bank berjalan tempat orang kampung mengutang sedikit bunga sebagai upah. Kadang bagi mereka yang tak mampu membayar bisa dengan memberikan tenaga atau memasok langsung hasil panennya. Semua itu tidak datang begitu saja karena orang tuaku membangunnya dengan buliran keringat dan usaha keras. “Menurutku orang tuamu bukan pemelihara Begu Ganjang” simpul Ardo menutup ceritaku. Tentu mataku terbelalak mendengarnya, tapi langsung ditimpalnya lagi mencoba meyakinkanku. “Itu semua hanya kecemburuan sosial masyarakat disini aja. Kalian yang nota bene hanya pendatang tetapi bisa makmur di kampung ini. Terutama Pak Togar dan Ompung Horas, dulu keluarga mereka yang paling terpandang di kampung ini, tentu mereka iri melihat kesuksesan keluargamu” bebernya bertubi-tubi.
                Aku yang sempat sedikit termakan hasut warga jadi sedikit mulai goyah. Masih setengah sadar dengan penjelasan Ardo,tapi tak bisa disangkal masuk diakal. Rasa bersalah menggerogoti hatiku menyadari darah mereka sendiri hampir sepihak dengan warga. “Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan kematian penduduk di kampung ini, bukan dua tiga orang loh? Apalagi kan ibu melahirkan emang santapan begu ganjang” tanyaku seakan mematahkan penjelasan Ardo. Dia mengernyitkan dahi yang terselip sebagian dibalik rambutnya yang jatuh menggantung. Perlu dua menit bagiku menunggu mulutnya yang menganga itu bergerak memuntahkan jawaban dahsyat atau ucapan menyerah. “Nah, kemarin aku iseng-iseng periksa dari data penyakit masyarakat sekitar kampung ini untuk mengetahui kondisi umum kesehatan mereka, kebanyakan warga di kampung ini meninggal akibat terserang paru-paru. Itu wajar karena orang kampung disini masih banyak merokok dengan tembakau racikan sendiri, bahkan beberapa masih pakai daun nipah. Satu lagi, nelayan disini sering mencari ikan tengah malam karena air yang tenang dan hasil yang di dapat lumayan. Itu semua sangat berperan menyebabkan penyakit paru-paru. Sedangkan wanita melahirkan….” belum selesai dia berkoar-koar semakin berapi- api aku langsung memotong penjelasannya. “Ibu-ibu yang melahirkan sering tidak selamat karena dari awal kehamilan mereka , kesadaran terhadap perkembangan janin dan si Ibu sangat rendah. Mereka hampir tidak pernah periksa kandungan ditambah lagi tenaga medis dan peralatan yang kurang, bahkan masih banyak memakai jasa dukun beranak” tukasku menimpali penjelasan Ardo. Blaasss, sempurna sudah. Serasa semua tuduhan masyarakat itu rasanya sirna, Begu Ganjang tidak lebih dari ilusi, hanya pencitraan dibalik kecemburuan sosial dan pelayan serta kesadaran akan kesehatan yang rendah di kampung ini. Cukup lama kami berpandangan seakan merayakan kesuksesan kami mengungkap fenomena ini layaknya Connan. “Tapi cukup, hal itu sudah sangat terlambat. Tak berpengaruh apa-apa buatku, tak akan mengembalikan Bapak Mamakku, mereka tetaplah Parbegu ganjang bagi orang kampung ini. Semua sudah selesai. Aku sekarang PNS. Aku akan memulai hidup baru di kota Medan” tegasku tiba-tiba kepada Ardo.
              Ardo meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Apa hatimu tidak tergerak melihat kampung kelahiranmu ini.?” “Kampung yang merengut kedua orang tuaku” “Mereka tidak bersalah Marta..” “Apaaa!!” gertakku naik pitam dengan hentakan tanganku dari cengkramannya. Ingin rasanya mencakar atau menelan tubuh mahluk yang di depanku ini. Tak ada yang lebih nista bagi seorang pembunuh bagiku. “Tenang Marta. Sebenarnya mereka tidak tau apa yang mereka perbuat. Pengetahuan mereka masih dangkal itu yang memaksa mereka melakukan ini semua. Coba mereka ngerti akan bahaya rokok, angin malam atau pemeriksaan wajib kandungan, semua ini tak akan terjadi “ terangnya senada dengan nafasku berangsur mulai tenang. “ Kita tidak tau siapa lagi korban berikutnya yang mendapat sebutan Begu ganjang. Kampung ini akan terus begini, tingkat kematian akan semakin tinggi, ya Begu ganjang bakal terus ada dan terus memakan korban jiwa” tukasnya lagi berharap mampu meluluhkan hatiku bagi kampung ini. Ardo semakin menjadi-jadi saja, setelah dia berhasil menyadarkan aku, dia juga mencoba menghasutku untuk mengabdi bagi kampung ini.
                Ini tidak mudah bagiku, sekalipun aku dikutuk dan ditempatkan di kampung ini, perlu seribu kali berpikir untuk menyanggupinya. Demi apa akau menolong penduduk kampung yang hilang hati membakar hidup- hidup orang tuaku. Masih membekas wajah beringas Pak Togar bagai kesurupan setan menyiramkan minyak tanah itu atau Bu Marni bagai singa lapar menghujani bebatuan tajam di tubuh mereka. “Biar saja mereka musnah tak berparu-paru atau mati bersimbah darah bersama bayi tak berdosa itu” kutuk hatiku bagai iblis sembari meninggalkan dia. Aku menatap lukisan Bapak Mamak hadiahku atas pernikahan ke-25 mereka dulu. Tak sengaja piranti otakku teringat pesan Bapak Mamak dulu. “Mengabdilah buat desa ini ya Boru. Ambil PNS di kampung ini aja. Lihatlah Puskesmas kita , masih kurang Bidan. Masyarakat disini juga belum ngerti kesehatan. Ya boru ya, biar maju kampung ini” nasehat mereka seolah merengek pas acara keluarga setelah widudaku dulu. Hatiku saja yang mengeras meneguhkan hati memilih daerah Medan besama generlap ibu kota yang menjanjikan itu. Tertegun aku mendengar pesan mulia itu, serasa manis-senada merdu mengingatnya. Mereka begitu rindu melihat kampung ini maju tapi dengan apa yang telah diperbuat kampung ini apa mereka tidak berubah pikiran. Disinipun aku pasti hanya sebagai pegawai honorer meninggalkan status PNS dan kemewahan Medan sana. Tidak, ini benar-benar membuatku dilema, membuat pikiranku semakin semrawut saja.
                                                           ***
            “Lihatlah,kampung kita sekarang aman setelah begu ganjang lenyap. Angka kematian kecil, masyarakat sehat” bangga Ompung Horas mempromosikan dirinya jadi kepala desa berikutnya. Tentu dia merasa orang yang paling berperan menuntaskan begu ganjang, karena dialah dalang yang membakar amukan massa di kampung ini. Ingin sekali kupatahkan lidah tua itu. Tepat sekali “Begu ganjang” tidak ada lagi di kampung ini, karena “Begu ganjang” itu jelmaan kecemburuan sosial dan kesadaran kesehatan yang rendah. Aku adalah bidan honorer di kampung ini, mewujudkan impian terakhir kedua orang tuaku. Aku dan Dokter Ardo dibawah naungan Puskesmas telah berhasil melaksanakan penyuluhan akan bahaya rokok, periksa dini kehamilan dan gaya hidup sehat. Bagiku, orang tuakulah pembasmi Begu Ganjang, aib yang disematkan orang kampung bagi mereka sendiri.

#terinspirasi dari kisah nyata di tanah batak

8 komentar:

  1. kenapa gak kau kirim ke majalah atau koran lae, bermutu kali soalnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah kok, tp blum dimuat,. mngkin masih kurng terlalau mnrik

      Hapus
  2. bisa juga neh di film kan.. Keren, tapi intrik adat bataknya lebih di eksplore lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahah,, jangka panjang itu lah.. masuk koran aja blum tembus tembus.. ahhaa

      Hapus
  3. dah dimuat belum di koran? klau belum, kirim ke majalah Misteri lae, ntar aku terbitin... naskahmisteri@yahoo.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum lae.. aku aku kirim lae.. mksh

      Hapus